Syubhat istawa = istaula

 Pernyataan atau bait syair Al-Akhtal (seorang penyair Arab Kristen dari suku Taghlib) mengenai lafaz istawa tersebut tidak diucapkan dalam konteks perdebatan tafsir Al-Qur'an, melainkan sebagai bait puisi pujian (madih) pada zaman Dinasti Umayyah.

Berikut rincian waktu dan konteks sejarah kemunculannya:

1. Waktu Kejadian (Perkiraan Tahun)

Bait syair tersebut diubah oleh Al-Akhtal pada kisaran tahun 72–73 Hijriah (sekitar 691–692 Masehi).

2. Konteks Sejarah Bait Puisi

Bait puisi tersebut berbunyi:

قد استوى بشرٌ على العراقِ ... من غيرِ سيفٍ ودمٍ مهراقِ (Bishr telah istawa [menguasai/bertakhta] atas Irak, tanpa pedang dan darah yang tertumpah)

Tokoh bernama Bishr dalam syair tersebut adalah Bishr bin Marwan (saudara kandung dari Khalifah Bani Umayyah, Abdul Malik bin Marwan).

  • Pada tahun 72/73 H, Abdul Malik bin Marwan berhasil merebut kembali wilayah Irak dari kekuasaan Mus'ab bin az-Zubair (saudara Abdullah bin az-Zubair).
  • Setelah merebut Irak, Abdul Malik melantik saudaranya, Bishr bin Marwan, menjadi gubernur (amir) di Kufah/Irak.
  • Al-Akhtal, yang saat itu merupakan penyair istana Bani Umayyah, merangkai puisi ini untuk memuji kepemimpinan Bishr bin Marwan yang berhasil memegang tampuk kekuasaan di Irak.

3. Kapan Bait Ini Mulai Ditarik ke Perdebatan Tafsir?

Al-Akhtal sendiri wafat pada tahun 92 H / 710 M, jauh sebelum perdebatan ilmu kalam (teologi) merebak luas.

Bait puisinya baru dipakai sebagai dalil bahasa (syahid lughawi) oleh kelompok Jahmiyyah dan Mu'tazilah pada pertengahan hingga akhir abad ke-2 Hijriah (beberapa puluh tahun setelah Al-Akhtal meninggal) untuk mendukung penafsiran kata istawa pada ayat Al-Qur'an menjadi istaula (menguasai/menundukkan).

Komentar